|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
STRATEGIC MANAGEMENT
Multibusiness Strategy
Humannisa Rubina Lestari
55117010003
Mahasiswa Magister Management
Univesitas Mercu Buana
Prof. Dr. Ir Hapzi Ali, MM, CMA
Dosen Magister Management
Univesitas Mercu Buana
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dafar
Isi
Multibisnis Strategi
•
Pendekatan
Portofolio
•
Pendekatan Sinergi
•
Parenting Network
•
Pendekatan Patching
Tujuan:
- Memahami pendekatan portofolio
terhadap analisis dan pilihan strategis di perusahaan-perusahaan Multibisnis.
- Memahami dan menggunakan tiga
pendekatan portofolio yang berbeda untuk melakukan analisis dan
pilihan strategis di perusahaan-perusahaan Multibisnis.
- Memahami Pendekatan Portofolio, Sinergi, Parenting network dan Patching.
- Memahami
pendekatan yang sinergi dalam melakukan analisis dan membuat pilihan yang strategis di dalam suatu perusahaan Multibisnis.
- Mengevaluasi peran dari induk perusahaan dalam
melakukan analisis dan membuat pilihan yang strategic untuk menentukan apa
bagaimana meningkatkan nilai yang berujud di dalam suatu perusahaan Multibisnis.
1.
Pendekatan Portofolio
Teknik portofolio merupakan suatu pendekatan yang
dipelopori oleh Boston Consulting Group (BCG). Pendekatan ini mencoba membantu para manajer menyeimbangkan Cashflow sumberdaya diantara berbagai
bisnisnya,
sambil mengidentifikasi
dasar tujuan
strategis mereka dalam seluruh bisnis barang dan jasanya.
A.
Matriks
Pertumbuhan Pangsa Pasar BCG
v Tanda Tanya (Question Marks)
Divisi
dalam kelompok I
memiliki posisi pangsa pasar relatif rendah, tetapi bersaing dalam industri
yang berkembang pesat.
Biasanya kebutuhan Cashflow
perusahaan ini tinggi dan pendapatan kasnya rendah. Bisnis ini disebut Question marks karena sebuah organisasi harus
memutuskan apakah memperkuat divisi ini dengan menjalankan strategi intensif
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, atau pengembangan produk) atau menjualnya.
v Bintang (Stars)
Bisnis
di kelompok II Stars mewakili peluang jangka panjang
terbaik untuk pertumbuhan dan profitabilitas sebuah organisasi.
Divisi ini memilih pangsa
pasar relatif yang tinggi dan tingkat pertumbuhan tinggi seharusnya menerima
investasi yang besar untuk mempertahankan atau memperkuat posisi dominan
mereka. Integrasi ke depan, ke belakang dan horizontal: penetrasi pasar,
pengembangan pasar, pengembangan produk, dan joint venture adalah strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan
divisi ini
v Sapi perah (Cash Cows)
Divisi
yang berposisi di kelompok
III memiliki pangsa pasar relatif tinggi tetapi bersaing dalam industri yang
pertumbuhannya lambat. Disebut Cash Cows karena menghasilkan kas lebih dari
yang dibutuhkannya, sehingga sering
kali di perah.
v Anjing (Dogs)
Divisi
kelompok IV ini memiliki
pangsa pasar relatif yang rendah dan bersaing dalam industri yang
pertumbuhannya rendah atau tidak tumbuh. Hal ini disebabkan karena posisi
internal dan eksternalnya lemah, bisnis ini sering kali dilikuidasi, dan divestasi.
Ketika sebuah divisi adalah Dogs, retrechment
dapat menjadi strategi terbaik yang dapat dijalankan dan menjadi bisnis
yang mampu bertahan dan menguntungkan
B.
Matriks SPACE:
Matriks SPACE (Strategic
Position and Action Evaluation) mewakili dua dimensi internal Financial strength dan Competitive advantage dan dua dimensi
eksternal, yaitu Environmental stability dan Industrial strength. Keempat faktor ini hal yang penting dalam strategis sebuah organisasi.
C.
BCG’s
Strategic Environments Matrix
Tipe bisnis dibagi 4 yaitu :
1)
Volume Businesses
Bisnis yang memiliki sumber daya yang unggul, tapi
dengan ukuran yang besar (diukur dengan nilai perekonomian)
2)
Stalemate Businesses
Bisnis yang memiliki
beberapa sumber daya, biasanya ukurannya kecil tapi berpengaruh kepada
profitabilitas karena adanya kemampuan Operation
yang efisien dan pengaturan Cost
management.
3)
Fragmented Businesses
Bisnis yang memiliki
banyak sumber daya, tapi dalam ukuran kecil. Tipikal diikuti dengan Low brand loyalty , mudah ditiru, dan
memiliki nilai perekonomian kecil.
4)
Specialization Businesses
Bisnis yang memiliki
sumber daya yang banyak, memenangkan Specialization
businesses karena memiliki keunggulan perbedaan dengan yang lain, seperti
desain produk, dan Branding expertise.
D.
Matriks Internal-Eksternal (IE)
Matriks IE dibagi ke dalam tiga bagian wilayah yang memiliki implikasi strategi yang berbeda. Pertama, rekomendasi untuk
divisi yang masuk ke dalam kelompok I, II, IV dapat
digambarkan sebagai ‘tumbuh dan kembangkan’. Strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan
produk) atau integratif (integrasi ke depan, integrasi ke belakang, dan
integrasi horizontal) dapat menjadi paling sesuai untuk divisi-divisi ini.
Kedua, divisi yang
masuk ke dalam sel III, V, VII dapat dikelola dengan cara terbaik dengan
strategi jaga dan pertahankan; penetrasi pasar dan pengembangan produk
adalah dua strategi yang umum digunakan untuk divisi tipe ini. Ketiga, rekomendasi umum diberikan untuk
divisi yang masuk ke dalam sel VI, VIII, dan IX adalah tuas dan divestasi.
Organisasi yang berhasil mempu mencapai portofolio bisnis yang diposisikan
dalam atau sekitar kelompok I dalam matriks IE.
Tabel 4 Matriks
Internal-Eksternal
E.
Matriks
Strategi Besar (Matrix Grand
Strategy)
Matriks Grand
Strategy didasarkan pada dua dimensi evaluatif; posisi kompetitif dan
pertumbuhan pasar. Strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan suatu organisasi
terdapat pada urutan daya tariknya dalam masing-masing kelompok dalam matriks. Perusahaan
yang berada pada kelompok
I dalam Matriks Grand Strategy berada
pada posisi yang sangat bagus. Untuk perusahaan ini, terus berkonsentrasi pada
pasar saat ini (penetrasi pasar dan pengembangan pasar) dan produk saat ini
(pengembangan produk) adalah strategi yang sesuai. Bila perusahaan pada kelompok I
terlalu berkomitmen pada satu produk, maka diversifikasi konsentrik dapat
mengurangi risiko yang berhubungan dengan lini produk yang sempit. Perusahaan
kuadran I mampu mengambil keuntungan dari peluang eksternal dalam beberapa
area. Mereka dapat mengambil resiko secara agresif ketika dibutuhkan.
Perusahaan yang
berada di kelompok II
perlu mengevaluasi pendekatan saat ini terhadap pasar secara serius. Walaupun
industri berkembang, tapi tidak
mampu untuk bersaing secara efektif, dan mereka perlu menentukan mengapa
pendekatan perusahaan saat ini tidak efektif dan bagaimana perusahaan dapat
berubah dengan
cara terbaik untuk memperbaiki daya saingnya. Karena perusahaan kelompok II
berada pada industri yang pasarnya tumbuh secara cepat, strategi defensif
(bukannya integratif atau deversifikasi) biasanya menjadi pilihan pertama yang
harus dipikirkan. Tetapi, jika perusahaan tidak memiliki kompetensi yang unik
atau keunggulan kompetitif, maka integrasi horizontal sering menjadi
alternative.
Perusahaan kelompok III
bersaing dalam industri yang tumbuh dengan lambat dan memiliki posisi
kompetitif yang lemah. Perusahaan-perusahaan ini harus membuat perubahan
drastis secara cepat untuk menghindari penurunan yang lebih jauh dan
kemungkinan likuidasi. Pengurangan biaya dan aset secara ekstensif (retrenchment) harus dilakukan terlebih
dahulu. Alternatif strategi adalah mengalihkan sumber daya dari bisnis saat ini
ke bidang lain (diversifikasi). Jika yang lainnya gagal, pilihan terakhir untuk
bisnis di Kelompok III
adalah divestasi atau likuidasi.
Bisnis di kelompok IV
memiliki posisi kompetitif yang kuat dalam industri yang tumbuh lambat. Selain itu memiliki
karakteristik Cashflows yang tinggi dan
kebutuhan untuk tumbuh secara internal yang terbatas dan sering kali dapat
menjalankan diversifikasi konsentrik, horizontal dengan sukses. Perusahaan kelompok IV
juga menjalankan joint venture.
Gambar 4 Matriks Grand Strategy
Keterbatasan Pendekatan Portofolio
Pendekatan
portofolio memberikan beberapa kontribusi bagi analisis strategis melalui para
manajer korporat yang yakin akan kemampuan mereka untuk menstransfer keunggulan
kompetitif manajemen profesional ke beragam bisnis. Pendekatan ini
mengomunikasikan sejumlah besar informasi mengenai beragam unit bisnis dan
rencana korporat dalam format yang sangat disederhanakan. Pendekatan
ini mempunyai beberapa keterbatasan dan kelemahan penting:
v Masalah
utama dengan matriks portofolio adalah bahwa matriks tersebut tidak menyebutkan
bagaimana nilai diciptakan di antara unit-unit bisnis, satu-satunya
hubungan di antara unit-unit bisnis tersebut adalah Cash.
v Pengukuran
yang benar-benar akurat untuk klasifikasi matriks tidak semudah yang dilukiskan
oleh matriks-matriks tersebut. Mengidentifikasi bisnis individual, atau pasar
yang berbeda, sering kali tidak dapat dilakukan setepat yang seharusnya dari asumsi
dasar.
v Asumsi
dasar mengenai hubungan antara pangsa pasar dan profitabilitas (Efek
kurva pengalaman) berbeda
lintas industri dan segmen pasar yang berbeda. Beberapa industry tidak memiliki
kaitan semacam itu. Beberapa menemukan bahwa perusahaan dengan pangsa pasar
yang rendah dapat menghasilkan profitabilitas yang superior dengan keunggulan
diferensiasi.
v Pilihan-pilihan
strategis yang terbatas, yang dimaksudkan untuk menjelaskan arus sumber daya
dalam suatu perusahaan, kelihatannya lebih sesuai jika dipandang sebagai misi
strategis dasar, yang menciptakan pemahaman yang keliru mengenai apa yang
sebenarnya dicakup oleh strategi masing-masing bisnis.
v Pendekatan
portofolio menggambarkan pandangan bahwa perusahaan perlu mencukupi sendiri
modalnya. Hal ini mengabaikan modal yang digalang di pasar modal.
v Pendekatan
portofolio biasanya gagal untuk membandingkan keunggulan kompetitif yang
diterima oleh suatu bisnis karena dimiliki oleh perusahaan tertentu dengan
biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut untuk memiliki bisnis
itu.
2.
Pendekatan Sinergi
Kesempatan
untuk membangun Value melalui disverifikasi, integrasi, atau Joint venture
strategi yang biasanya ditemukan di aktivitas pasar, operasi dan manajemen.
Strategi analisisnya lebih mementingkan apakah potensi persaingan meningkat
dari volume kesempatan yang direalisasikan. Pengaruh inti kompetisi (nilai kunci dalam mengembangkan
kemampuan).
Gambar 5 Dasar
kompetisi
Terdapat dua elemen kritikal yang
memiliki nilai dalam berbagi kesempatan yaitu, berbagi kesempatan harus
memiliki porsi yang signifikan dalam Value chain suatu bisnis. Selain itu,
harus benar-benar berhubungan dengan bisnis yang saling membutuhkan (berjalan
bersama-sama).
Gambar 6 Kunci sebuah kompetisi
Portfolio sebaiknya dapat menjadikan keuntungan kompetensi inti perusahaan,
”Related-Business” merupakan kemampuan yang sama atau hampir sama untuk sukses
dan mengambil keuntungan kompetensi dalam produk pasar. Situasi yang
“Unrelated-Bisnis” mendiversifikasi terjadi ketika tumpang tindih kapabilitas
yang tidak nyata atau produk tetap lainnya dan sumber keuangan.
3. Parenting Network
Perspektif peranan Perusahaan pusat
(Parent) dalam multibisnis (The children), berbagi kebijakan, Insight, dan Guidance yang sama agar dapat membantu mengembangnkan tiap
bisnisnya. Perspektif Parenting network melihat bahwa
perusahaan multibisnis ada untuk membuat value, dengan mempengaruhi (Parenting) bisnisnya. Perusahaan Parent terbaik akan menciptakan value
yang lebih baik daripada kompetitor yang memiliki usaha yang sama. Potensi
untuk peningkatkan dalam suatu bisnis disebut ‘Parenting Opportunities’. Terdapat 10 sumber Parenting opportunities, yaitu :
a)
Ukuran dan usia
b)
Manajemen
c)
Pendefinisian usaha
d)
Memprediksi eror
e)
Hubungan antar unit usaha
f)
Kemampuan yang common
g)
Keahlian khusus
h)
Hubungan dengan pihak luar
i)
Keputusan besar
j)
Perubahan signifikan
4. Pendekatan
Patching
Patching adalah proses rutin yang
dilakukan oleh perusahaan eksekutif untuk ‘Remap’ bisnisnya agar sesuai
perubahan peluang pasar (Adding,
splitting, transfering, exiting, atau kombinasi bisnis). Patching tidak
dilihat kritikal di dalam market yang tidak berubah tapi menjadi kritikal dalam
menciptakan nilai ekonimi perusahaan multibisnis.
Dafar
Pustaka
Pearce, J. A &
Robinson, R.B (PR), Planning for Domesctic & Global competition, Irwin Mc Graw-Hill Inc., Singapore, 2013