Senin, 16 April 2018
Kamis, 05 April 2018
Rabu, 04 April 2018
Sabtu, 24 Maret 2018
External Macro Environment Analysis
Explanation regarding External Macro Environment Analysis
Strategic Planning, Strategic Management process, SWOT, Porter five forces, Pestel AnalysisPlease check link bellow for the details my paper :
Senin, 19 Maret 2018
Pengertian Visi dan Misi Perusahaan
Explanation regarding Vision and Company Mission, Longterm objective, Corporate Culture, Corporate Governance dan The Agency Theory
Please check link bellow for the details my paper :
https://www.slideshare.net/humannisa/2humannisa-rubina-lestari55117010003-hapzi-ali-vision-and-company-missionmercu-buana-university-2018pdf
don't forget to follow us
Hanataba Community
We always ours as yours
Its me, Young and Independent
Kamis, 15 Maret 2018
MARKETING PERSONALITY
“Exploring the Personality Traits as Cause of Compulsive Buying Behavior”
by Farooq-e-azam cheema, Iqbal A. Phanwar, Sayma Zia & Mariam Rasool
Abstrak :
Tujuan dari penelitian ini untuk menyelidiki hubungan antara compulsive buying dan lima besar sifat kepribadian (Extraversi, keramahan, kesadaran, kecerdasan dan neuritisme). Menggunakan 400 koresponden berumur di atas 18 tahun, yang dilakukan di pusat perbelanjaan terkemuka di Karachi, Pakistan.
Hasil temuan dari penelitian ini untuk membantu para Marketer untuk menyusun strategi agar dapat memaksimalkan penjualan mereka dengan menargetkan para compulsive buyer setelah mempelajari perilaku pembelian mereka.
Introduction
Penelitian tentang compulsive buyer telah diteliti sejak dahulu oleh Blueler (1924) dan Kreapelin (1915), sebagai ganguan mental dengan menamakannya sebagai oniomania yang berarti pembeli yang mania, compulsive dan kecanduan. Pendapat lain dari O’Guinn T, Faber R,1989. Menyatakan bahwa membeli atau melakukan pembelian adalah tugas ruitn bagi kebanyakan orang, sedangkan compulsive buyers menghadapai ketidakmampuan untuk mengontrol prilaku pembelian mereka, mereka tidak memiliki control atas diri meraka sendiri.
Compulsive buyer tidak hanya sekedar membeli produk/jasa tetapi mereka juga menemukan kepuasan dalam proses pembelian. Compulsive buyers adalah Kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian konstan tanpa memperimbangkan kegunaan dari produk atau jasa yang telah mereka beli karena mereka tidak memiliki control atas diri mereka.
Literature Review
Kepribadian
• Kepribadian adalah sebuah organisasi dinamis di dalam system psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik prilaku dan pikirannya . Gordon W Allport (1897)
• Kepribadian sulit didefinisikan mengingat sifatnya yang luas dan dinamis dan tidak ada definisi konsep yang berlaku umum. Karsarjian (1971)
• “Kepribadian adalah sesuatu yang sulit dijelaskan dalam satu kalimat. "Dikatakan sangat luas dan dinamis. Gangajail (2009, hal 97)
• kepribadian sebagai "pola pemikiran, emosi, dan perilaku yang khas dan abadi yang menandai adaptasi masing-masing individu terhadap situasi hidupnya," Arnould, Price dan Zinkhan (2002, hal 254)
Beberapa Teori Kepribadian
1. Teori Psikoanalisis Klasik (Sigmun Freud)
Psikoanalisis dapat diartikan sebagai analisa jiwa. Teori psikoanalisis klasik pertama kalinya ditemukan oleh Sigmun Freud di tahun 1986, yang mana pada masa itu teori psikoanalisis merupakan teori baru yang meninjau tentang manusia yang menganggap bahwa ketidaksadaran menjadi peran penting untuk memahami perilaku dan kepribadian manusia. Freud mengartikan psikoanalisis dalam tiga arti, antara lain adalah:
• Psikoanalisis digunakan untuk menunjukkan sebuah metode penelitian terhadap proses psikis, misalnya saja seperti mimpi. Hal ini tak pernah dijangkau oleh penelitian ilmiah sebelumnya.
• Psikoanalisis dapat ditunjukkan sebagai salah satu teknik yang digunakan untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh klien neorotis.
• Psikoanalisis digunakan untuk menunjukkan seluruh pengetahuan mengenai psikologis baik yang di dapatkan melalui metode atau teknik.
A. Id
Id berasal dari kata latin “Is” yang artinya es. Kepribadian ini disebut Freud sebagai kepribadian bawaan lahir. Didalamnya terdapat dorongan yang didasari pemenuhan biologis guna kepuasan bagi dirinya sendiri. Karakter khas pada aspek ini adalah tidak adanya pertimbangan logis dan etika sebagai prinsip pengambilan keputusan. Lebih sederhana, id berwujud pada gambaran nafsu, hasrat seksual dan perasaan superior (ingin berkuasa).
B. Ego
Aspek kepribadian ini terjadi akibat pengaruh yang ia dapatkan dari apa yang terjadi didunia/lingkungannya. Ciri khas dari aspek ini, ego mengatur id dan juga superego untuk pemenuhan kebutuhan sesuai dengan kepentingan kepribadian yang terlibat. Artinya, berbeda dengan id yang hanya mementingkan diri sendiri, ego merupakan aspek yang mementingkan keperluan lebih luas (tidak hanya dirinya).
C. Superego
Aspek kepribadian yang satu ini akan lekat kaitannya moral atau nilai kehidupan. Ranah superego berisi tentang batasan untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dengan kata lain, superego memiliki peran penting untuk menjadi penengah antara id an ego. Ia menjadi penyekat dari sinyal yang dikirimkan aspek id serta memotivasi ego untuk melakukan hal yang menjunjung moralitas.
2. Teori Kepribadian Alfred Adler
Teori kepribadian lainnya datang dari Alfred Adler. Menurut Adler, manusia merupakan makhluk individual yang termotivasi oleh dorongan-dorongan sosial yang memang sudah dibawa ketika lahir. Alfred Adler merupakan pelopor dalam ilmu psikologi yang membahas tentang teori bawah sadar yang merupakan bagian penting di dalam sebuah kepribadian seseorang. Teori Adler sendiri sangat bertentangan dengan teori Freud, yang mana lebih menunjukkan bahwa tingkat kesadaran individu mendorong untuk selalu menjadi sukses dan terbaik. Bila mereka mau bekerja keras, maka mereka dapat sukses, begitupun sebaliknya.
3. Teori Kepribadian Karen Horney
Sebenarnya, Horney merupakan salah satu pengikut dari Teori Freud. Namun dengan berjalannya waktu, Freud mulai terpengaruh dengan teori Adler dan Jung sehingga lebih mengembangkan pendekatan kepribadian holistik. Horney memperlihatkan cara pandang yang berbeda mengenai neurosis. Menurutnya, terdapat hubungan yang jelas antara neurosis dengan kehidupan sehari-hari.
Neurosis juga sebenarnya merupakan cara yang manusia gunakan untuk menjalani hubungan dengan lainnya. Namun hanya sebagian saja yang bisa melakukan hal tersebut dengan baik. Horney menemukan bahwa terdapat 10 bentuk kebutuhan orang neurotis, yang berdasarkan pada beberapa kebutuhan primer yang terhambat akibat beragam kesulitan yang manusia hadapi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain adalah:
a. Kebutuhan akan penerimaan dan afeksi.
b. Kebutuhan terhadap orang yang menanggung hidup.
c. Kebutuhan dalam membatasi hidup pada batas-batas yang sempit.
d. Kebutuhan akan kekuasaan.
e. Kebutuhan mengeksploitasi orang lain.
f. Kebutuhan akan prestise.
g. Kebutuhan untuk dikagumi.
h. Kebutuhan akan prestasi.
i. Kebutuhan akan kemandirian dan kecukupan.
j. Kebutuhan akan kesempurnaan.
4. Teori Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung merupakan salah satu dari ahli psikologi yang cukup terkemuka pada abad XX. Bahkan, beliau merupakan ahli psikologi pertama yang merumuskan tentang tipe kepribadian manusia dengan menggunakan istilah introvert dan ekstrovert.
Di dalam teori kepribadian yang diungkapkannya, beliau membahas hal-hal penting termasuk tentang ego, ketidaksadaran kolektif, serta ketidaksadaran personal. Menurut Jung, manusia penuh pengaruh dari warisan generasi terdahulu, kemudian kepribadian dibentuk secara tak sadar. Kepribadian seseorang akan terbentuk melalui perjalanan proses yang panjang turun temurun dari generasi ke generasi yang ada.
Menurut Jung struktur jiwa terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
• Ego
Merupakan bagian dari jiwa dasar yang terdiri dari ingatan, pikiran, persepsi, serta perasaan yang sadar. Dari ego inilah muncul identitas dan kontinyuitas dalam diri seseorang.
• Collective Unconscious
Merupakan gudang yang berisikan bekas-bekas ingatan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tidak hanya meliputi sejarah manusia saja namun juga leluhur nenek moyangnya. Collective unconscious terdiri dari beberapa archetype, antara lain adalah:
1. Persona.
2. Anima dan Animus.
3. Shadow.
4. Self.
• Personal Unconscious
Pada bagian ini terdiri dari pengalaman-pengalaman yang dialami secara sadar namun dilupakan dengan cara suppression dan repression. Pengalaman-pengalaman yang bersifat lemah juga akan masuk ke dalam bagian ini.
5. Teori Psikologi Individual
Teori Psikologi Kepribadian selanjutnya adalah teori psikologi individual. Alfred Adler merupakan pengembang dari psikologis individual, yang merupakan sistem komparatif untuk memahami seseorang serta berkaitan dengan lingkungan sosialnya. Psikologi individual sendiri dikembangkan langsung oleh Alfred Adler serta beberapa pengikutnya antara lain adalah Martin Son Tesgard, Donal Dinkmeyer, dan Rudolph Drekurs. Ada 7 prinsip dasar dari psikologi individual, antara lain adalah:
• Perasaan rendah diri dan kompensasi.
• Tujuan yang sifatnya semu.
• Berjuang menjadi superior.
• Gaya Hidup.
• Minat Sosial.
• Kreatif.
6. Teori Psikologi Behaviorisme
Psikologi Behaviorisme merupakan bidang ilmu di dalam psikologi yang di dalamnya mempelajari tentang perilaku seseorang. Sistem psikologi Behavorisme merupakan transisi dari sistem yang ada sebelumnya. Sistem psikologi ini sangat mendapat dukungan yang kuat dan berkembang pesat di Amerika Serikat pada abad 20.
7. Teori Humanistik
Teori Humanistik dicetuskan pertama kali oleh Arthur Combs, Carl Rogers, Erich Fromm, Viktor Franki, serta Abraham Maslow. Pada teori humanistik, lebih melihat pada perkembangan kepribadian seseorang. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan adalah untuk melihat kejadian yang mana manusia dapat membangun dirinya sendiri untuk melakukan hal yang positif.
Kemampuan untuk melakukan hal-hal positif inilah yang disebut potensi manusia. Para ahli yang memiliki aliran humanism biasanya akan lebih fokus pada pengajaran kemampuan hal-hal positif ini. Kemampuan positif sangat berkaitan dengan pengembangan emosi positif yang berada dalam domain afektif. Emosi menjadi karakteristik yang kuat dan terlihat dari orang-orang yang beraliran humanisme. Teori humanisme sangat cocok jika diterapkan dalam pembelajaran yang sifatnya untuk membentuk kepribadian, perubahan sikap, kesadaran hati nurani dan juga analisis pada fenomena sosial.
8. Teori Kepribadian Gestalt
Psikologi Gestalt merupakan suatu aliran psikologi yang berkembang di Jerman pada tahun 1912. Psikologi ini muncul bersamaan dengan sebuah artikel yang terbit berjudul “Experimental Studies of the Perception of Movement” oleh Max Wertheimer. Max Wertheimer (1880-1943), pada zamannya dikenal sebagai penemu Psikologi Gestalt, ia juga bekerja sama dengan kedua temannya yaitu Kurt Lewin Koffka (1886-1941) dan Wolfag Kohler (1887-1967), dimana keduanya juga memiliki pandangan yang sama dengan Wertheimer.
Aliran Gestalt menentang aliran behavioristik yang memiliki pandangan elementaristik. Menurut Gestalt, baik strukturalisme maupun behaviorisme sama-sama memiliki kesalahan karena telah membagi pokok bahasan menjadi beberapa bagian terkait yaitu perilaku menjadi sebuah elemen-elemen. Pandangan psikologi Gestalt berpusat pada apa yang dipersepsi itu merupakan sebuah kebulatan. Teori ini juga dikenal dengan teori pembelajaran yang mendalam.
Banyak penelitian dan Teori yang dikemukakan oleh para ahli, salah satu Teori Sifat Kepribadian yang paling sering digunakan dalam dunia kerja adalah Teori Sifat Kepribadian “Model Lima Besar” atau “Big Five Personality Traits Model” yang dikemukakan oleh Seorang Psikolog terkenal yaitu Lewis Goldberg. Teori Sifat Kepribadian Model Lima Besar atau Big Five Personality Traits Model tersebut terdiri dari 5 dimensi kunci yaitu Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness dan Neuroticism. Untuk mempermudah mengingatnya, kita dapat menggunakan huruf pertama dari masing-masing dimensi menjadi singkatan “OCEAN”.
9. Teori Kepribadian Lima Besar (Big Five Personality Traits Model)
Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai Sifat Kepribadian Model Lima Besar atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Big Five Personality Traits Model.
1. Openness to Experience (Terbuka terhadap Hal-hal baru)
Dimensi Kepribadian Opennes to Experience ini mengelompokan individu berdasarkan ketertarikannya terhadap hal-hal baru dan keinginan untuk mengetahui serta mempelajari sesuatu yang baru. Karakteristik positif pada Individu yang memiliki dimensi ini cenderung lebih kreatif, Imajinatif, Intelektual, penasaran dan berpikiran luas. Sifat kebalikan dari “Openness to Experience” ini adalah individu yang cenderung konvensional dan nyaman terhadap hal-hal yang telah ada serta akan menimbulkan kegelisahan jika diberikan tugas-tugas baru.
2. Conscientiousness (Sifat Berhati-hati)
Individu yang memiliki Dimensi Kepribadian Conscientiousness ini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan suatu tindakan ataupun penuh pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan, mereka juga memiliki disiplin diri yang tinggi dan dapat dipercaya. Karakteristik Positif pada dimensi adalah dapat diandalkan, bertanggung jawab, tekun dan berorientasi pada pencapain. Sifat kebalikan dari Conscientiousness adalah individu yang cendurung kurang bertanggung jawab, terburu-buru, tidak teratur dan kurang dapat diandalkan dalam melakukan suatu pekerjaan.
3. Extraversion (Ekstraversi)
Dimensi Kepribadian Extraversion ini berkaitan dengan tingkat kenyamanan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Karakteristik Positif Individu Extraversion adalah senang bergaul, mudah bersosialisasi, hidup berkelompok dan tegas. Sebaliknya, Individu yang Introversion (Kebalikan dari Extraversion) adalah mereka yang pemalu, suka menyendiri, penakut dan pendiam.
4. Agreeableness (Mudah Akur atau Mudah Bersepakat)
Individu yang berdimensi Agreableness ini cenderung lebih patuh dengan individu lainnya dan memiliki kepribadian yang ingin menghindari konfilk. Karakteristik Positif-nya adalah kooperatif (dapat bekerjasama), penuh kepercayaan, bersifat baik, hangat dan berhati lembut serta suka membantu. Karakteristik kebalikan dari sifat “Agreeableness” adalah mereka yang tidak mudah bersepakat dengan individu lain karena suka menentang, bersifat dingin dan tidak ramah.
5. Neuroticism (Neurotisme)
Neuroticism adalah dimensi kepribadian yang menilai kemampuan seseorang dalam menahan tekanan atau stress. Karakteristik Positif dari Neuroticism disebut dengan Emotional Stability (Stabilitas Emosional), Individu dengan Emosional yang stabil cenderang Tenang saat menghadapi masalah, percaya diri, memiliki pendirian yang teguh.
Sedangkan karakteristik kepribadian Neuroticism (karakteristik Negatif) adalah mudah gugup, depresi, tidak percaya diri dan mudah berubah pikiran. Oleh karena itu, Dimensi Kepribadian Neuroticism atau Neurotisme yang pada dasarnya merupakan sisi negatif ini sering disebut juga dengan dimensi Emotional Stability (Stabilitas Emosional) sebagai sisi positifnya, ada juga yang menyebut Dimensi ini sebagai Natural Reactions (Reaksi Alami).
Compulsive Buyers
Complusive buyer dapat dijelaskan sebagai suatu aktifitas pembelian yang berulang sebagai akibat dari adanya peristiwa yang tidak menyenangkan ataupun perasaan yang negative dikarenakan ileh rasa ketagihan (kecaduan), tertekan, atau rasa bosan. Faber dan O’Guinn, 1989. Pembeli kompulsif adalah konsumen yang keranjingan belanja atau cenderung suka membelanjakan uang untuk membeli barang meskipun barang tersebut tidak mereka butuhkan. Untuk beberapa pelaku kompulsif, uang dan harta benda telah menggantikan keberadaan teman, keluarga bahkan “tempat ibadah”. Pusat perbelanjaan telah menjadi pengganti “tempat ibadah” dan berbelanja menjadi “ritualnya” (Boundy, 2000 dalam Yang, 2006).
Methodology
Penelitian dilakukan di kota Karachi Pakistan tepatnya di pusat kota perbelanjaan yaitu Park Towers, Dolmen City Mall dan Forum. dengan 400 sampel yang berumur 18 tahun ke atas. Pengolahan data menggunakan SPSS Linier Regression dengan mengubah kuesioner ke dalam skala untuk dijumlahkan. Pengumpulan data menggunakan Mini-IPIP yang dibuat oleh Donnellal et al (2006) dan skala compulsive buyers yang dikembangkan oleh Ridgway et al (2008).
Discussion and Conclusion
Hasil penelitian menunjukkan hubungan posistif antara complusif buyers dan lima besar sifat kepribadian. Hubungan terkuat yaitu antara Conscientiousness dan complusive buyers di ikuti dengan Neuroticism, Agreeableness, dan Extraversion. Menurut temuan penelitian sebelumnya perempuan lebih rentan untuk berprilaku compulsive buyers dibandingkan dengan laki-laki. (Dittmar et al, 2005 : Babin et al, 1994).
LIMITATIONS
Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, pertama-tama studi ini mengabaikan ciri kepribadian pembeli online. Pembeli online adalah bagian pasar yang besar dan harus terus dipertimbangkan. Selanjutnya, ada juga ciri kepribadian lain yang seharusnya dipertimbangkan termasuk Daftar Periksa Adjektif Kepribadian yang dibuat pada tahun 1991. Selanjutnya, penelitian ini umumnya mengajukan pertanyaan kepada responden mengenai kebiasaan berbelanja mereka, pendekatan yang lebih baik adalah membatasi produk tertentu dan kemudian menyelidiki kepribadian dan perilaku mereka untuk hasil yang lebih baik dan otentik.
Daftar Pustaka
C heema, Farooq-e-a zam et al.2014.The19Journal of Business Strategies, Vol.8, No.2,pp 19–29.
Minggu, 11 Maret 2018
Boston Consulting Group BCG
STRATEGIC MANAGEMENT
Multibusiness Strategy
Humannisa Rubina Lestari
55117010003
Mahasiswa Magister Management
Univesitas Mercu Buana
Prof. Dr. Ir Hapzi Ali, MM, CMA
Dosen Magister Management
Univesitas Mercu Buana
|
||||
Dafar
Isi
Multibisnis Strategi
•
Pendekatan
Portofolio
•
Pendekatan Sinergi
•
Parenting Network
•
Pendekatan Patching
Tujuan:
- Memahami pendekatan portofolio
terhadap analisis dan pilihan strategis di perusahaan-perusahaan Multibisnis.
- Memahami dan menggunakan tiga
pendekatan portofolio yang berbeda untuk melakukan analisis dan
pilihan strategis di perusahaan-perusahaan Multibisnis.
- Memahami Pendekatan Portofolio, Sinergi, Parenting network dan Patching.
- Memahami
pendekatan yang sinergi dalam melakukan analisis dan membuat pilihan yang strategis di dalam suatu perusahaan Multibisnis.
- Mengevaluasi peran dari induk perusahaan dalam
melakukan analisis dan membuat pilihan yang strategic untuk menentukan apa
bagaimana meningkatkan nilai yang berujud di dalam suatu perusahaan Multibisnis.
1.
Pendekatan Portofolio
Teknik portofolio merupakan suatu pendekatan yang
dipelopori oleh Boston Consulting Group (BCG). Pendekatan ini mencoba membantu para manajer menyeimbangkan Cashflow sumberdaya diantara berbagai
bisnisnya,
sambil mengidentifikasi
dasar tujuan
strategis mereka dalam seluruh bisnis barang dan jasanya.
A.
Matriks
Pertumbuhan Pangsa Pasar BCG
v Tanda Tanya (Question Marks)
Divisi
dalam kelompok I
memiliki posisi pangsa pasar relatif rendah, tetapi bersaing dalam industri
yang berkembang pesat.
Biasanya kebutuhan Cashflow
perusahaan ini tinggi dan pendapatan kasnya rendah. Bisnis ini disebut Question marks karena sebuah organisasi harus
memutuskan apakah memperkuat divisi ini dengan menjalankan strategi intensif
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, atau pengembangan produk) atau menjualnya.
v Bintang (Stars)
Bisnis
di kelompok II Stars mewakili peluang jangka panjang
terbaik untuk pertumbuhan dan profitabilitas sebuah organisasi.
Divisi ini memilih pangsa
pasar relatif yang tinggi dan tingkat pertumbuhan tinggi seharusnya menerima
investasi yang besar untuk mempertahankan atau memperkuat posisi dominan
mereka. Integrasi ke depan, ke belakang dan horizontal: penetrasi pasar,
pengembangan pasar, pengembangan produk, dan joint venture adalah strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan
divisi ini
v Sapi perah (Cash Cows)
Divisi
yang berposisi di kelompok
III memiliki pangsa pasar relatif tinggi tetapi bersaing dalam industri yang
pertumbuhannya lambat. Disebut Cash Cows karena menghasilkan kas lebih dari
yang dibutuhkannya, sehingga sering
kali di perah.
v Anjing (Dogs)
Divisi
kelompok IV ini memiliki
pangsa pasar relatif yang rendah dan bersaing dalam industri yang
pertumbuhannya rendah atau tidak tumbuh. Hal ini disebabkan karena posisi
internal dan eksternalnya lemah, bisnis ini sering kali dilikuidasi, dan divestasi.
Ketika sebuah divisi adalah Dogs, retrechment
dapat menjadi strategi terbaik yang dapat dijalankan dan menjadi bisnis
yang mampu bertahan dan menguntungkan
B.
Matriks SPACE:
Matriks SPACE (Strategic
Position and Action Evaluation) mewakili dua dimensi internal Financial strength dan Competitive advantage dan dua dimensi
eksternal, yaitu Environmental stability dan Industrial strength. Keempat faktor ini hal yang penting dalam strategis sebuah organisasi.
C.
BCG’s
Strategic Environments Matrix
Tipe bisnis dibagi 4 yaitu :
1)
Volume Businesses
Bisnis yang memiliki sumber daya yang unggul, tapi
dengan ukuran yang besar (diukur dengan nilai perekonomian)
2)
Stalemate Businesses
Bisnis yang memiliki
beberapa sumber daya, biasanya ukurannya kecil tapi berpengaruh kepada
profitabilitas karena adanya kemampuan Operation
yang efisien dan pengaturan Cost
management.
3)
Fragmented Businesses
Bisnis yang memiliki
banyak sumber daya, tapi dalam ukuran kecil. Tipikal diikuti dengan Low brand loyalty , mudah ditiru, dan
memiliki nilai perekonomian kecil.
4)
Specialization Businesses
Bisnis yang memiliki
sumber daya yang banyak, memenangkan Specialization
businesses karena memiliki keunggulan perbedaan dengan yang lain, seperti
desain produk, dan Branding expertise.
D.
Matriks Internal-Eksternal (IE)
Matriks IE dibagi ke dalam tiga bagian wilayah yang memiliki implikasi strategi yang berbeda. Pertama, rekomendasi untuk
divisi yang masuk ke dalam kelompok I, II, IV dapat
digambarkan sebagai ‘tumbuh dan kembangkan’. Strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan
produk) atau integratif (integrasi ke depan, integrasi ke belakang, dan
integrasi horizontal) dapat menjadi paling sesuai untuk divisi-divisi ini.
Kedua, divisi yang
masuk ke dalam sel III, V, VII dapat dikelola dengan cara terbaik dengan
strategi jaga dan pertahankan; penetrasi pasar dan pengembangan produk
adalah dua strategi yang umum digunakan untuk divisi tipe ini. Ketiga, rekomendasi umum diberikan untuk
divisi yang masuk ke dalam sel VI, VIII, dan IX adalah tuas dan divestasi.
Organisasi yang berhasil mempu mencapai portofolio bisnis yang diposisikan
dalam atau sekitar kelompok I dalam matriks IE.
Tabel 4 Matriks
Internal-Eksternal
E.
Matriks
Strategi Besar (Matrix Grand
Strategy)
Matriks Grand
Strategy didasarkan pada dua dimensi evaluatif; posisi kompetitif dan
pertumbuhan pasar. Strategi yang sesuai untuk dipertimbangkan suatu organisasi
terdapat pada urutan daya tariknya dalam masing-masing kelompok dalam matriks. Perusahaan
yang berada pada kelompok
I dalam Matriks Grand Strategy berada
pada posisi yang sangat bagus. Untuk perusahaan ini, terus berkonsentrasi pada
pasar saat ini (penetrasi pasar dan pengembangan pasar) dan produk saat ini
(pengembangan produk) adalah strategi yang sesuai. Bila perusahaan pada kelompok I
terlalu berkomitmen pada satu produk, maka diversifikasi konsentrik dapat
mengurangi risiko yang berhubungan dengan lini produk yang sempit. Perusahaan
kuadran I mampu mengambil keuntungan dari peluang eksternal dalam beberapa
area. Mereka dapat mengambil resiko secara agresif ketika dibutuhkan.
Perusahaan yang
berada di kelompok II
perlu mengevaluasi pendekatan saat ini terhadap pasar secara serius. Walaupun
industri berkembang, tapi tidak
mampu untuk bersaing secara efektif, dan mereka perlu menentukan mengapa
pendekatan perusahaan saat ini tidak efektif dan bagaimana perusahaan dapat
berubah dengan
cara terbaik untuk memperbaiki daya saingnya. Karena perusahaan kelompok II
berada pada industri yang pasarnya tumbuh secara cepat, strategi defensif
(bukannya integratif atau deversifikasi) biasanya menjadi pilihan pertama yang
harus dipikirkan. Tetapi, jika perusahaan tidak memiliki kompetensi yang unik
atau keunggulan kompetitif, maka integrasi horizontal sering menjadi
alternative.
Perusahaan kelompok III
bersaing dalam industri yang tumbuh dengan lambat dan memiliki posisi
kompetitif yang lemah. Perusahaan-perusahaan ini harus membuat perubahan
drastis secara cepat untuk menghindari penurunan yang lebih jauh dan
kemungkinan likuidasi. Pengurangan biaya dan aset secara ekstensif (retrenchment) harus dilakukan terlebih
dahulu. Alternatif strategi adalah mengalihkan sumber daya dari bisnis saat ini
ke bidang lain (diversifikasi). Jika yang lainnya gagal, pilihan terakhir untuk
bisnis di Kelompok III
adalah divestasi atau likuidasi.
Bisnis di kelompok IV
memiliki posisi kompetitif yang kuat dalam industri yang tumbuh lambat. Selain itu memiliki
karakteristik Cashflows yang tinggi dan
kebutuhan untuk tumbuh secara internal yang terbatas dan sering kali dapat
menjalankan diversifikasi konsentrik, horizontal dengan sukses. Perusahaan kelompok IV
juga menjalankan joint venture.
Gambar 4 Matriks Grand Strategy
Keterbatasan Pendekatan Portofolio
Pendekatan
portofolio memberikan beberapa kontribusi bagi analisis strategis melalui para
manajer korporat yang yakin akan kemampuan mereka untuk menstransfer keunggulan
kompetitif manajemen profesional ke beragam bisnis. Pendekatan ini
mengomunikasikan sejumlah besar informasi mengenai beragam unit bisnis dan
rencana korporat dalam format yang sangat disederhanakan. Pendekatan
ini mempunyai beberapa keterbatasan dan kelemahan penting:
v Masalah
utama dengan matriks portofolio adalah bahwa matriks tersebut tidak menyebutkan
bagaimana nilai diciptakan di antara unit-unit bisnis, satu-satunya
hubungan di antara unit-unit bisnis tersebut adalah Cash.
v Pengukuran
yang benar-benar akurat untuk klasifikasi matriks tidak semudah yang dilukiskan
oleh matriks-matriks tersebut. Mengidentifikasi bisnis individual, atau pasar
yang berbeda, sering kali tidak dapat dilakukan setepat yang seharusnya dari asumsi
dasar.
v Asumsi
dasar mengenai hubungan antara pangsa pasar dan profitabilitas (Efek
kurva pengalaman) berbeda
lintas industri dan segmen pasar yang berbeda. Beberapa industry tidak memiliki
kaitan semacam itu. Beberapa menemukan bahwa perusahaan dengan pangsa pasar
yang rendah dapat menghasilkan profitabilitas yang superior dengan keunggulan
diferensiasi.
v Pilihan-pilihan
strategis yang terbatas, yang dimaksudkan untuk menjelaskan arus sumber daya
dalam suatu perusahaan, kelihatannya lebih sesuai jika dipandang sebagai misi
strategis dasar, yang menciptakan pemahaman yang keliru mengenai apa yang
sebenarnya dicakup oleh strategi masing-masing bisnis.
v Pendekatan
portofolio menggambarkan pandangan bahwa perusahaan perlu mencukupi sendiri
modalnya. Hal ini mengabaikan modal yang digalang di pasar modal.
v Pendekatan
portofolio biasanya gagal untuk membandingkan keunggulan kompetitif yang
diterima oleh suatu bisnis karena dimiliki oleh perusahaan tertentu dengan
biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut untuk memiliki bisnis
itu.
2.
Pendekatan Sinergi
Kesempatan
untuk membangun Value melalui disverifikasi, integrasi, atau Joint venture
strategi yang biasanya ditemukan di aktivitas pasar, operasi dan manajemen.
Strategi analisisnya lebih mementingkan apakah potensi persaingan meningkat
dari volume kesempatan yang direalisasikan. Pengaruh inti kompetisi (nilai kunci dalam mengembangkan
kemampuan).
Gambar 5 Dasar
kompetisi
Terdapat dua elemen kritikal yang
memiliki nilai dalam berbagi kesempatan yaitu, berbagi kesempatan harus
memiliki porsi yang signifikan dalam Value chain suatu bisnis. Selain itu,
harus benar-benar berhubungan dengan bisnis yang saling membutuhkan (berjalan
bersama-sama).
Gambar 6 Kunci sebuah kompetisi
Portfolio sebaiknya dapat menjadikan keuntungan kompetensi inti perusahaan,
”Related-Business” merupakan kemampuan yang sama atau hampir sama untuk sukses
dan mengambil keuntungan kompetensi dalam produk pasar. Situasi yang
“Unrelated-Bisnis” mendiversifikasi terjadi ketika tumpang tindih kapabilitas
yang tidak nyata atau produk tetap lainnya dan sumber keuangan.
3. Parenting Network
Perspektif peranan Perusahaan pusat
(Parent) dalam multibisnis (The children), berbagi kebijakan, Insight, dan Guidance yang sama agar dapat membantu mengembangnkan tiap
bisnisnya. Perspektif Parenting network melihat bahwa
perusahaan multibisnis ada untuk membuat value, dengan mempengaruhi (Parenting) bisnisnya. Perusahaan Parent terbaik akan menciptakan value
yang lebih baik daripada kompetitor yang memiliki usaha yang sama. Potensi
untuk peningkatkan dalam suatu bisnis disebut ‘Parenting Opportunities’. Terdapat 10 sumber Parenting opportunities, yaitu :
a)
Ukuran dan usia
b)
Manajemen
c)
Pendefinisian usaha
d)
Memprediksi eror
e)
Hubungan antar unit usaha
f)
Kemampuan yang common
g)
Keahlian khusus
h)
Hubungan dengan pihak luar
i)
Keputusan besar
j)
Perubahan signifikan
4. Pendekatan
Patching
Patching adalah proses rutin yang
dilakukan oleh perusahaan eksekutif untuk ‘Remap’ bisnisnya agar sesuai
perubahan peluang pasar (Adding,
splitting, transfering, exiting, atau kombinasi bisnis). Patching tidak
dilihat kritikal di dalam market yang tidak berubah tapi menjadi kritikal dalam
menciptakan nilai ekonimi perusahaan multibisnis.
Dafar
Pustaka
Jennifer, Ria. 2015. https://prezi.com/orhn_8oe2uqv/strategi-multibisnis/
(4 Maret 2018)
Pearce, J. A &
Robinson, R.B (PR), Planning for Domesctic & Global competition, Irwin Mc Graw-Hill Inc., Singapore, 2013
Label:
EDU
Langganan:
Postingan (Atom)




